Author Archives: Edwin

Stop Beli Baju Baru! Mulai Capsule Wardrobe untuk Hemat Pengeluaranmu

Setelah beli baju baru, apakah Sobat Pintar membuang/mendonasikan pakaian lama dengan jumlah yang sama dengan pakaian yang baru dibeli? Tidak perlu dijawab dulu kok. Wajar kalau Sobat Pintar menaikkan sebelah alis sambil bertanya dalam hati, “Beli baju baru kan buat tambah koleksi. Masa yang lama malah dibuang?” Ya memang itu yang dilakukan oleh mayoritas orang. Tapi percayakah kalau semakin banyak koleksi baju malah semakin mempersulit hidup Sobat Pintar? Oke, setuju kalau banyaknya koleksi baju akan memberi kesan segar pada outfit yang dikenakan karena ragam variasinya. Setuju juga deh kalau ada yang bilang outfit yang kece adalah tuntutan pekerjaan. Tapi apakah Sobat Pintar pernah dengar tentang Capsule Wardrobe? Capsule wardrobe merupakan sebuah program untuk membatasi isi lemari seseorang agar memiliki gaya hidup minimalis. Tentunya, hidup minimalis akan menjauhkan seseorang dair berbagai masalah dan keribetan Ketika mencari di Google, capsule wardrobe dijelaskan sebagai: Kumpulan pakaian dan aksesoris yang hanya mencakup item penting. Koleksi…

Read more

Alasan Orang Sukses Pakai Gaya Pakaian yang Sama Tiap Hari

Pertanyaan singkat: berapa lama waktu yang Sobat Pintar butuhkan untuk bersiap di pagi hari? Setengah jam? Satu jam? Atau bahkan lebih? Kalau sebagian waktu digunakan untuk mengkhawatirkan outfit apa yang mau dikenakan, hari ini pasti nggak mau dipandang B aja di kantor, kan?    Sobat Pintar pasti familiar dengan nama-nama orang sukses seperti Einstein, Bill Gates, Obama, dan Mark Zuckerberg. Jajaran nama-nama orang sukses ini memiliki satu kesamaan. Mereka sama-sama mengenakan pakaian dengan gaya sama dalam kesehariannya. Banyak orang yang bertanya-tanya, mungkin Sobat Pintar pernah bertanya juga, kenapa para orang sukses tersebut memilih untuk mengenakan pakaian yang sama tiap hari meskipun uang bukan jadi masalah lagi bagi mereka. Dengan kekayaan segitu, mereka bisa saja pakai baju baru tiap hari, kan? Cara mereka dalam berpakaian bisa dikaitkan dalam gerakan capsule wardrobe, yaitu hanya memiliki sedikit pakaian dalam lemari. Tanpa banyak orang tahu, metode ini secara langsung memberi dampak positif pada keseharian…

Read more

Media Sosial Bikin Konsumtif? Ini dia alasannya

Marketing tradisional tidak sedang sekarat – tapi memang sudah mati. (Zynman 1999) Pernyataan tersebut bisa diartikan seperti platform untuk menjalankan strategi marketing yang sudah tidak efektif lagi menggunakan media tradisional (koran, radio, televisi). Internet lah yang sekarang jadi tempat pemasaran yang efektif, khususnya media sosial. Informasi yang disampaikan di internet terbukti lebih dipercaya daripada informasi di media-media tradisional. Perkembangan dunia yang makin pesat mendorong pemasaran berbagai industri untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Perilaku konsumerisme tidak hanya dipengaruhi oleh iklan-iklan yang bertebaran di sosial media, pengaruh teman juga memiliki peran penting lho. Ada teman yang mengunggah foto kopi di cafe ini, otomatis muncul keinginan pribadi untuk makan di tempat itu juga. Makin mudahnya orang untuk mengakses sosial media, makin rentan pula mereka terpapar dengan produk-produk yang akan mengantarkan mereka ke budaya konsumerisme. Kemunculan media sosial juga menjadi permulaan tumbuhnya gengsi dalam sosial media. Posting ngopi di sini, liburan ke situ, OOTD model…

Read more

Terapi Belanja: Bagaimana Cara Melakukannya Tanpa Mengganggu Keuangan?

Apa sih, yang biasanya Sobat Pintar lakukan untuk menghilangkan penat karena bekerja? Liburan? Makan-makan? Atau justru belanja? Yep, belanja untuk kesenangan yang memiliki citra pemborosan ternyata bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan meningkatkan mood. Istilah psikologinya retail therapy atau terapi belanja. Terapi belanja merupakan hal nyata dan terbukti secara psikologis dapat membantu memperbaiki mood seseorang. Bagaimana terapi belanja membantu memperbaiki kondisi psikologi seseorang? Relaksasi dan “pelarian” Teman dekat Sobat Pintar baru saja putus cinta, mengalami minggu yang berat dalam bekerja, atau sedang bertengkar hebat dengan keluarga dan tiba-tiba mengatakan, “Butuh banget shopping nih!”. Berbelanja terbukti secara psikologis sebagai kegiatan penghilang penat. Dengan berbelanja, secara natural seseorang akan membayangkan dirinya dalam bagaimana dirinya menggunakan produk yang akan dibeli. Dengan membayangkan hal tersebut, secara tidak sadar mereka sebenarnya sudah memposisikan dirinya dalam lembaran baru hidup mereka secara tujuan. Sebagaimana banyak atlet papan atas berkata bahwa visualisasi diri di masa depan merupakan penunjang…

Read more

Wajarkah Keinginan Untuk Belanja? Yuk, Cari Tau Disini!

Sobat Pintar pernah belanja untuk beli barang baru dan tiba-tiba muncul keinginan untuk membeli barang lain untuk melengkapinya? Hal ini wajar kok bisa terjadi, dan demi membongkar kebiasaan belanja seperti ini, Sobat Pintar perlu pemahaman konsepnya terlebih dahulu. Coba bayangkan Sobat Pintar pindah rumah. Setelah melihat kamar yang baru dan masih kosong, seketika muncul keinginan untuk menggunakan kesempatan pindahan ini sebagai alasan untuk mendekorasi ulang kamar. Tiba-tiba kasur baru, gorden baru hingga karpet baru sudah menghiasi kamar yang baru. Padahal barang-barang lama masih berfungsi dengan baik. Contoh lain ketika membeli baju, tiba-tiba ingin membeli sepatu, celana, dan aksesoris agar cocok dengan baju baru tersebut. Padahal Sobat Pintar masih memiliki barang-barang tersebut di rumah. Mayoritas orang pasti pernah mengalami hal ini. Dorongan perilaku seperti ini dinamakan Efek Diderot. Efek Diderot merupakan fenomena sosial dimana ‘pengenalan’ terhadap kepemilikan barang baru mendorong seseorang untuk membeli barang tambahan yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Teori ini…

Read more

Pindah Kost? Jangan Buru-Buru Beli Barang Demi Menghindari Keborosan

Sobat Pintar sedang merantau? Kalau iya, berarti kemungkinan besar tinggal di kost atau kontrakan. Dalam memilih kost, biasanya masing-masing orang memiliki preferensinya sendiri. Seperti letak kamar mandi, kemudahan akses dengan fasilitas umum, kondisi lingkungan sekitar, hingga perlakuan pemilik terhadap penghuninya. Tak jarang, para perantau bisa berpindah dari satu kost ke kost lain dengan berbagai alasan. Bagi Sobat Pintar yang baru mulai kost atau sedang berencana pindah, perhatikan tips berikut agar tidak melakukan kesalahan dalam membeli barang. Tipsnya adalah: Jangan Buru-buru Beli Barang Setelah menempati kamar yang baru, sebaiknya tidak buru-buru membeli barang untuk mengisi kamar. Setidaknya Sobat Pintar perlu merasa kalau tempat tersebut benar-benar nyaman dan akan betah tinggal disana dalam waktu yang cukup lama. Faktor yang perlu diperhatikan cukup beragam, mulai dari kondisi lingkungan sekitar kost, akses transportasi, lokasi ke tempat-tempat penting seperti tempat makan atau minimarket, kondisi sosial antar penghuni kost, dan masih banyak lagi. Observasi Lebih Dulu…

Read more

Guilty Pleasure yang Merugikan untuk Keuangan Pribadi

Sobat Pintar pernah nggak sih, dengar istilah “guilty pleasure”? Istilah bahasa Inggris ini memang belum ada padanan langsungnya ke dalam bahasa Indonesia. Kalau diterjemahkan secara literal akan jadi “kesenangan bersalah”… terdengar aneh ya. Guilty pleasure merupakan kegiatan atau hal yang kita gemari namun kita tidak terlalu bangga untuk mengakui kalau kita menyukainya. Misal seorang anak muda berusia 20-an memiliki guilty pleasure bahwa dia menyukai lagu-lagu dangdut lawas, dimana teman-teman seusianya sedang gandrung dengan lagu-lagu bergenre Rap atau Indie. Atau seorang binaragawan yang ternyata gemar mendengarkan lagu-lagu Taylor Swift. Begitu kira-kira penggambarannya. Nah, yang akan kita bahas kali ini merupakan guilty pleasure yang bisa berimbas buruk bagi keuangan pribadi Sobat Pintar.   Makan di tempat mewah Satu kata: media sosial. Ya kalau bukan untuk alasan ini untuk apa lagi? Semakin melekatnya media sosial di kehidupan masyarakat, muncul juga yang namanya gengsi di media sosial. Ya meskipun foto-foto makanan mewahnya dengan bangga…

Read more

Fintech untuk Meningkatkan Inklusi Keuangan Indonesia

Maraknya platform pinjaman online baru-baru ini menuai kontroversi. Banyak media yang menganggap bahwa pinjaman model ini merugikan penggunanya. Berbagai media tersebut mendeskripsikan pinjaman online menggunakan berbagai kiasan yang bersifat konotatif. Hal ini tentunya merugikan bagi perusahaan fintech penyedia layanan pinjaman online. Namun, tanpa disadari hal ini juga merugikan pengguna yang enggan menggunakan layanan pinjaman online karena telah membaca pemberitaan di media tersebut. Selain konsumen, pemerintah sebenarnya merasakan imbas pemberitaan ini, karena fintech merupakan salah satu faktor pendukung peningkatan keuangan inklusif di Indonesia. Apakah Sobat Pintar familiar dengan kata inklusi keuangan? Sedikit penjabaran, inklusi keuangan sendiri merupakan kondisi di mana kurangnya jumlah masyarakat yang memiliki akses keuangan, terutama dengan perbankan. Demi meningkatkan inklusi keuangan ini, pemerintah mendukung platform pinjaman online ini untuk menjangkau masyarakat yang belum dapat dijangkau oleh bank. Sehingga pemberitaan tersebut merupakan opini sepihak, karena pada dasarnya pinjaman online yang disediakan perusahaan fintech merupakan pergerakan yang didukung pemerintah.    …

Read more

Seberapa Aman sih, Pinjaman Online di Kredit Pintar? Yuk Pahami Dulu!

Semakin pesat perkembangan dan jangkauan pinjaman online melalui fintech, makin besar pula celah untuk tindak kejahatan. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi karena pelaku tindak kejahatan selalu bisa melihat kesempatan untuk meraup keuntungan secara ilegal. Sobat Pintar masih ingat dengan kasus pembajakan di mesin ATM? Bahkan mesin ATM yang sudah ada bertahun-tahun, yang bahkan kita sudah percaya akan keamanannya, masih bisa dibajak. Sehingga bukan tidak mungkin kalau identitas Sobat Pintar disalahgunakan pelaku untuk mengajukan pinjaman online melalui fintech. Kalau sudah begitu nanti yang rugi karena ditagih siapa lagi kalau bukan Sobat Pintar. Apalagi sempat terjadi kehebohan yang ditimbulkan fintech karena penyalahgunaan data pelanggan di media sosial bisa jadi pelajaran. Calon pelanggan banyak yang ragu untuk mengajukan pinjaman di fintech secara online. Untuk menghindari terjadinya tindak kejahatan pinjaman online, ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegahnya. Yang pertama dan yang paling penting, Sobat Pintar jangan terlalu percaya dengan orang lain, bahkan jika…

Read more

139/139