Mitos dan Fakta Pinjaman Online, Kenali dulu Sebelum Ajukan Pinjaman

Beberapa waktu yang lalu sempat tersiar kabar akan proses penagihan suatu perusahaan fintech yang dianggap merugikan nasabah. Semenjak saat itu, mulai banyak bermunculan laporan akan ketidakpuasan konsumen atas pelayanan fintech, terutama yang mengarah pada proses penagihan pinjamannya. Di antara banyaknya laporan tersebut, memang sulit memisahkan antara mana laporan yang berdasarkan fakta dan mana yang disebabkan karena kurangnya pemahaman akan proses penagihan pinjaman yang sewajarnya.

Kabar yang cepat menyebar di media sosial juga menimbulkan anggapan keliru yang berbunyi “pinjam uang di fintech itu berbahaya”, yang ditandai dengan banyaknya bermunculan headline yang mengandung kata “bahaya”, “jeratan”, hingga “jebakan” yang diikuti dengan kata pinjaman online. Tentunya hal ini menghambat tujuan dari industri tekfin dalam meningkatkan inklusi keuangan di Indonesia.  

Padahal, sebenarnya banyak dari anggapan-anggapan yang bermunculan merupakan anggapan yang salah. Nah, berikut mitos dan fakta akan pinjaman online:

 

Mitos

Pinjaman online itu bagaikan rentenir (bunga tinggi, biaya layanan tinggi di jatuh tempo/dipotong dari dana yg dicairkan)

Fakta

Tidak semua pinjaman online mencekik leher dengan bunga yang tinggi atau dengan biaya layanan selangit. Masih banyak perusahaan fintech yang mematok bunga sewajarnya, kok. Yang perlu dilakukan hanyalah mencari platform fintech yang yang menawarkan pinjaman dengan bunga yang sesuai kemampuan finansial masing-masing. Sehingga tidak perlu menyebarkan kabar di media sosial karena tidak membaca secara rinci tentang produk pinjaman yang ditawarkan sebelum mengajukan pinjaman.   

 

Mitos

Penagihan pinjaman online tidak manusiawi/melanggar privasi

Fakta

Memang gara-gara satu kasus bisa menodai image industri tekfin. Tapi tidak bisa menyamaratakan seperti itu. Faktanya, mayoritas perusahaan fintech memiliki prosedur professional dan tidak merugikan pihak peminjam dalam proses penagihan. Perusahaan fintech yang tepercaya akan melakukan proses penagihan secara bertahap terhadap nasabah yang terlambat melunasi hutang. Misalnya langkah awal dengan memberi notifikasi di aplikasi pengguna yang hampir terlambat melakukan pembayaran. Jika sudah terlambat akan kembali diingatkan oleh operator desk collection. Setelah diingatkan desk collection namun masih belum membayar juga, baru debt collector diarahkan untuk mendatangi tempat tinggal yang bersangkutan.    

 

Mitos

Hutang pinjaman online menjerat

Fakta

Faktanya, hutang yang menjerat merupakan kendali penuh dari pihak peminjam. Meskipun ada juga segelintir perusahaan fintech yang menawarkan pinjaman lain untuk melunasi pinjaman sebelumnya, semua keputusan masih di tangan peminjam. Asalkan peminjam dapat mengatur alur keuangan pribadi secara baik, tidak akan terjebak dalam lilitan hutang.  

 

Hingga saat ini, OJK pun masih dalam proses perumusan peraturan mengenai proses penagihan Fintech. Sebelum peraturan OJK dikeluarkan, lebih baik secara bertahap kita mengubah anggapan miring akan fintech.

Tak perlu ragu juga untuk mengajukan pinjaman online melalui Fintech. Salah satu fintech yang terpercaya dalam hal berbagai aspek adalah Kredit Pintar. Dengan segala kemudahan dan manfaat yang bisa dirasakan, Kredit Pintar selalu berusaha untuk memperbaiki dan mengembangkan pelayanannya demi kenyamanan peminjam.

 

Jangan ragu untuk nikmati manfaat pinjaman online! Ajukan aja pinjaman di Kredit Pintar dan buktikan proses pengajuan pinjaman yang cepat dan nyaman! Download aplikasinya di http://m.onelink.me/bc321b22

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *