Tingkatkan Edukasi Keuangan Inklusif, PT. Kredit Pintar Indonesia Kunjungi Universitas Cendrawasih

Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat akan keuangan inklusif di Indonesia, PT. Kredit Pintar Indonesia mengunjungi civitas akademika Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cendrawasih, Jayapura. Dalam acara yang bertajuk “Mengenal Tekfin dan Kontribusinya Terhadap Keuangan Inklusif”, PT. Kredit Pintar Indonesia memberi edukasi akan pentingnya peran tekfin dalam mewujudkan keuangan inklusif di Indonesia.

 

VP Business Development PT. Kredit Pintar Indonesia Boan Sianipar menuturkan, “Kami sangat senang bisa menjadi salah satu fintech pertama yang datang ke Jayapura, Papua untuk melakukan sosialisi fintech. Indonesia mempunyai target besar untuk inklusi finansial yaitu 75% pada tahun 2019 dan Financial technology hadir untuk membantu mencapai target pemerintah tersebut. Dengan teknologi, inklusi keuangan dapat semakin terwujud, tingkat kemiskinan dapat menurun, dan kesenjangan bisa berkurang. Kami harap agar orang-orang di Indonesia bagian Timur dapat ikut serta dalam perkembangan fintech ini.”

 

Survei dari OJK di tahun 2016 lalu menunjukan bahwa hanya sekitar 29 persen orang dewasa di Indonesia yang memiliki literasi keuangan yang baik, sedangkan indeks inklusi keuangan 2016 di negara ini mencapai sekitar 67 persen. Presiden Jokowi pun mengeluarkan Perpres Nomor 82 Tahun 2016 yang menargetkan indeks inklusi keuangan meningkat hingga ke angka 75 persen di tahun 2019. Demi menjawab hal tersebut, edukasi yang dilakukan PT. Kredit Pintar Indonesia merupakan salah satu langkah tepat yang ditempuh untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai produk keuangan yang ada.

“PT. Kredit Pintar Indonesia sebagai fintech mempunyai misi untuk masyarakat Indonesia untuk mendapatkan akses dan layanan penuh dari lembaga keuangan dengan cepat,” tutur Candra Dwi F, Senior Business Development PT. Kredit Pintar Indonesia di acara yang diselenggarakan pada Kamis,19 Juli 2018 tersebut.

 

Pentingnya Inklusi Keuangan

Istilah keuangan inklusif muncul karena dampak krisis pada kelompok bottom of the pyramid karena belum sepenuhnya memiliki akses untuk menikmati produk keuangan. Hal ini disebabkan karena mereka memiliki pengetahuan yang minim akan produk-produk dan layanan keuangan yang sebenarnya bisa mereka manfaatkan dengan maksimal. Akibatnya, hal ini memunculkan segmentasi konsumen, dimana muncul kelompok yang sulit diisi oleh berbagai lembaga keuangan.

 

Fintech sebagai layanan keuangan berbasis teknologi dianggap cocok untuk mengisi kekosongan tersebut dan menjangkau tempat di daerah layanan keuangan tradisional kurang. Dengan menyalurkan Kredit Tanpa Angsuran (KTA) dalam metode P2P lending kepada masyarakat, ke depannya layanan fintech diharapkan dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas dengan tujuan untuk mencapai kebebasan finansial dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *